pura-segara-rupek

Pura Segara Rupek

Pura Segara Rupek merupakan salah satu pura yang berada di wilayah Taman Nasional Bali Barat, tepatnya di Desa Sumberklampok, Kecamatan Grokgak, Kabupaten Buleleng, Bali. Jarak dari Kota Denpasar menuju lokasi ini sekitar 143 kilometer, yang dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 4 jam 20 menit menggunakan kendaraan. Pura ini berada di ujung paling barat Pulau Bali, sehingga menjadi titik daratan Bali yang paling dekat dengan Pulau Jawa. Untuk mencapainya, pengunjung perlu menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 12 kilometer melalui hutan lindung yang berada di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Jalur menuju pura tidaklah mudah, karena terdiri dari jalan tanah dan bebatuan yang cukup menantang. Karena akses yang sulit tersebut, Pura Segara Rupek jarang dikunjungi oleh masyarakat umum. Pura ini memiliki nilai sejarah yang sangat penting, karena tempat ini menjadi saksi dari peristiwa terpisahnya daratan antara Pulau Bali dan Pulau Jawa. Namun, sayangnya kondisi sarana, prasarana, dan infrastruktur jalan menuju pura masih kurang memadai.

Sejarah Pura Segara Rupek berasal dari sebuah babad atau lontar yang berjudul “Indik Segara Rupek”. Babad ini mengisahkan tentang persahabatan antara Mpu Siddhimantra dari Jawa Timur dan Sang Naga Basuki di Bali. Dikisahkan bahwa Mpu Siddhimantra sering mengunjungi sahabatnya tersebut setiap bulan purnama. Dalam kunjungannya, Mpu Siddhimantra selalu membawa makanan untuk Sang Naga, dan sebagai balasannya, Sang Naga Basuki memberikan perhiasan berharga kepada Mpu Siddhimantra. Cerita ini berlatar pada masa ketika Manik Angkeran, putra dari Mpu Siddhimantra yang memiliki kebiasaan berjudi, mencuri genta milik ayahnya. Ia pergi ke Besakih untuk memohon kekayaan dan emas kepada Naga Basuki. Permohonannya pun segera dikabulkan oleh Ida Sang Naga Raja Basuki. Namun, karena keserakahannya, Manik Angkeran memotong ekor Naga Basuki yang terbuat dari permata. Akibat tindakannya tersebut, Naga Basuki menjadi marah dan mengakhiri hidup Manik Angkeran.

Setelah mengetahui kejadian itu, Mpu Siddhimantra segera menuju Besakih untuk memohon ampun atas kesalahan yang dilakukan putranya dan meminta kepada Naga Basuki agar anaknya dihidupkan kembali. Permintaan itu pun dikabulkan oleh Sang Naga. Meski demikian, Mpu Siddhimantra tetap merasa khawatir jika anaknya akan kembali mengulangi perbuatan buruknya. Setelah melakukan semedi, Mpu Siddhimantra menerima petunjuk untuk mengetukkan tongkatnya ke tanah sebanyak tiga kali di daerah yang kini dikenal sebagai Selat Bali, dahulu disebut Ceking Getting. Tanah kemudian bergetar hebat dan membelah daratan, memisahkan Pulau Bali dari Pulau Jawa. Peristiwa ini dikenal dengan nama Segara Rupek, yang berarti lautan yang sempit. Tak lama setelah kejadian tersebut, dibangunlah sebuah tempat suci yang kemudian dikenal sebagai Pura Segara Rupek. Pura ini menjadi saksi bisu dari peristiwa luar biasa yang memisahkan dua pulau besar tersebut, serta menjadi simbol keagungan alam dan kebesaran Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa).

Sebelum memulai prosesi persembahyangan di Pura Segara Rupek, umat Hindu (pemedek) mengikuti tahapan tertentu. Langkah awal dimulai dengan mengunjungi Pura Beji Segara Rupek, tempat penyucian diri sebagai persiapan spiritual sebelum melanjutkan persembahyangan di pura utama. Di area ini, terdapat pelinggih Penglurah Agung dan Gedong Betel. Selain itu, lokasi ini juga menyuguhkan pemandangan indah ke arah Pulau Jawa yang tampak jelas dari seberang laut. Tahapan berikutnya adalah menuju Pura Payogan Ida Mpu Siddhimantra yang berada di sisi timur Pura Segara Rupek. Di pura ini terdapat sejumlah pelinggih utama, namun ada satu pelinggih yang secara khusus difungsikan sebagai tempat pemujaan langsung kepada Ida Mpu Siddhimantra. Setelah melalui tahapan sebelumnya, barulah para pemedek melanjutkan ke Pura Kahyangan Jagat Segara Rupek yang berada di area utama atau utamaning mandala. Pura ini memiliki susunan arsitektur yang terdiri dari dua bagian penting: Nista Mandala (Jaba Sisi), yaitu area paling luar dari kompleks pura, dan Utama Mandala (jeroan), yang merupakan bagian paling dalam, paling suci, serta menjadi tempat berdirinya pelinggih-pelinggih utama.

Upacara piodalan di Pura Segara Rupek dilaksanakan setiap Purnama Jyestha, yaitu purnama ke-11 yang jatuh pada Wraspati Kliwon Wuku Klawu dalam penanggalan Bali. Pada hari suci ini, seluruh area pura dipenuhi nuansa sakral, dengan berbagai ritual dan persembahan yang mencerminkan rasa bakti dan hormat kepada Sang Pencipta.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨