
Pura ini terletak di kawasan pertemuan antara pesisir pantai dan wilayah perbukitan, di mana terdapat sebuah goa yang menjadi habitat ribuan kelelawar. Dalam Lontar Padma Bhuwana, Pura Goa Lawah disebut sebagai salah satu kayangan jagat atau sad kahyangan, yang merupakan tempat suci bagi Dewa Maheswara dan Sanghyang Basukih, serta memiliki peran penting sebagai pusat keseimbangan antara laut dan gunung (nyegara-gunung). Pura Goa Lawah lokasinya sekitar 20 kilometer di sebelah timur kota Semarapura, Klungkung atau kurang lebih 59 kilometer dari kota Denpasar. Piodalan di pura dilaksanakan setiap enam bulan sekali yakni pada Anggara Kasih Medangsia. Pengempon pura yakni Krama Desa Pakraman Pesinggahan.
Keberadaan pura Goa Lawah dikaitkan dengan perjalanan Mpu Kuturan ke Bali. Beberapa lontar menyebutkan bahwa pura-pura besar berstatus Kahyangan Jagat dan Sad Kahyangan di Bali dibangun oleh pendeta terkenal, Mpu Kuturan terbukti dengan adanya di sebutkan pura Goa Lawah dalam lontar Mpu Kuturan. “Menurut data yang dihimpun oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Klungkung, yang saat ini tengah menyusun penerbitan buku tentang Pura Goa Lawah diceritakan bahwa Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-11, saat pemerintahan dipimpin oleh Anak Bungsu, adik Raja Airlangga. Sementara itu, Airlangga sendiri memerintah di Jawa Timur pada tahun 1019–1042 Masehi. Ketika tiba di Bali, Mpu Kuturan mendapati banyak sekte yang berkembang, dan untuk menyatukan mereka, ia memperkenalkan konsep Tri Murti. Kedatangan Mpu Kuturan membawa perubahan besar, terutama dengan mengajarkan cara memuja Hyang Widhi melalui konsep kahyangan atau parahyangan. Mpu Kuturan menetapkan konsep Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman dan mengukuhkan Kahyangan Jagat seperti Goa Lawah. Ia juga merancang bentuk pelinggih, arsitektur pura, serta sistem upacara dan aturan adat, yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Bali hingga kini.
Dalam lontar Dwijendratattwa disebutkan juga Perjalanan Danghyang Nirartha dari Gelgel berlanjut ke Kusamba hingga Goa Lawah. Di sana, ia terkagum oleh keindahan alam dan ribuan kelelawar di dalam goa. Terinspirasi oleh suasana sakral, beliau membangun padmasana sebagai tempat bersthana para dewa.
Dalam Babad Siddhimantra diceritakan pertemuan antara Sanghyang Basukih di Besakih dengan Danghyang Siddhimantra, keturunan Mpu Bharadah. Sanghyang Basukih, sang nagaraja, diyakini bersemayam di goa bawah Pura Goa Raja yang konon terhubung ke Goa Lawah. Kadang terlihat sosok naga melintas dari Goa Lawah ke pantai, dipercaya sebagai Sanghyang Basukih yang sedang menyucikan diri di laut. Menurut warga Pesinggahan, goa di Pura Goa Lawah tembus ke tiga tempat: Gunung Agung (Goa Raja Besakih), Talibeng, dan Nangkid Bangbang. Saat Gunung Agung meletus pada 1963, asap terlihat keluar dari mulut Goa Lawah, menjadi bukti keterhubungan goa-goa tersebut.
