Pura Dalem Balingkang, Kintamani Bangli

Pura Dalem Balingkang merupakan salah satu pura yang berada di wilayah desa Pakraman Pinggan, Kecamatan Kintamani Bangli. Dasar sejarah keberadaan pura Dalem Balingkang terdiri dari tiga sumber yaitu didasarkan pada Purana Pura Dalem Balingkang tahun 2009 dan berdasarkan mitos masyarakat di sekitar Pura Dalem Balingkang serta didasarkan juga pada kekawin Barong Landung.

Sejarah berdasarkan pada Purana Pura Dalem Balingkang 2009
Purana Pura Dalem Balingkang menyebutkan bahwa Maharaja Sri Haji Jayapangus berkuasa di Gunung Panarajon. Dalam pemerintahannya, beliau didampingi oleh permaisuri yang bernama Sri Parameswari Induja Ketana, yang dikenal sebagai putri bijaksana dan berasal dari Danau Batur, keturunan Bali Mula. Pada masa itu, Senapati Kuturan dijabat oleh Mpu Nirjamna, yang memiliki dua penasihat bernama Mpu Siwa Gandhu dan Mpu Lim. Mpu Lim memiliki seorang dayang cantik bernama Kang Cing We, putri I Subandar yang menikah dengan Jangir, seorang wanita Bali.

Suatu ketika, Sri Haji Jayapangus ingin menikahi Kang Cing We dan mengadakan upacara pernikahan. Mpu Siwa Gandhu memberi saran agar raja tidak menikahi Kang Cing We, karena perbedaan agama mereka (Hindu dan Buddha). Namun, raja tetap melanjutkan niatnya, yang membuat Mpu Siwa Gandhu marah dan akhirnya mengundurkan diri dari jabatan penasihat kerajaan. Raja melangsungkan pernikahan yang disaksikan oleh rohaniawan Hindu dan Buddha, pejabat kerajaan, dan rakyat. Sebagai tanda terima kasih, I Subandar memberikan dua keping uang kepeng atau pis bolong untuk bekal putrinya dalam mengabdi kepada raja, serta meminta raja memberikan uang tersebut kepada rakyat Bali sebagai sarana upacara yajna.

Karena marah dengan keputusan raja, Mpu Siwa Gandhu melakukan tapa brata memohon pada para dewa agar terjadi angin ribut dan hujan lebat. Doanya terkabul, dan terjadi badai yang menghancurkan Keraton Sri Haji Jayapangus di Panarajon. Raja dan pengikutnya melarikan diri ke hutan di Desa Jong Les, tempat yang kemudian dikenal sebagai Pura Dalem Balingkang. Nama “Dalem” berasal dari sebutan Kuta Dalem Jong Les, sedangkan “Balingkang” berasal dari kata “Bali,” yang merujuk pada raja sebagai penguasa Bali Dwipa, dan “Kang” diambil dari nama istrinya, Kang Cing We.

Raja berhasil membangun keraton dan tempat suci di Kuta Dalem, dan kerajaan Bali Dwipa kembali sejahtera. Di singgasana, beliau didampingi oleh dua permaisuri, Sri Parameswari Induja Ketana di sebelah kanan dan Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna (Kang Cing We) di sebelah kiri, bersama pejabat kerajaan dan rakyatnya.

Berdasarkan Mitos Masyarakat di Sekitar Pura Dalem Balingkang
Menurut cerita yang beredar di masyarakat sekitar Pura Dalem Balingkang, pada zaman dahulu ada seorang raja bernama Sri Jayapangus. Raja ini beristana di Bukit Panarajon, dengan keraton yang terletak di Kuta Dalem. Pada awal pemerintahannya, Sri Jayapangus memiliki seorang permaisuri bernama Dewi Mandul, yang tidak dapat melahirkan anak. Raja Jayapangus sangat ingin memiliki seorang putra sebagai penerus tahta di Panarajon. Namun, keinginannya itu tidak terwujud karena permaisurinya tidak bisa melahirkan anak. Suatu hari, saat beliau sedang berada di Pasar Kuta Dalem, beliau bertemu dengan seorang wanita cantik yang ternyata adalah putri seorang saudagar dari Cina. Terpesona oleh kecantikan putri tersebut, Sri Jayapangus berniat menikahinya secara diam-diam, tanpa upacara resmi yang disaksikan oleh pejabat kerajaan atau sepengetahuan Dewi Mandul, permaisurinya. Tindakan Sri Jayapangus tersebut diketahui oleh Bhatara Asiwa, yang akhirnya mengusirnya dari Panarajon karena kesalahan raja yang menikah tanpa melaksanakan upacara yajna, yang seharusnya dilakukan oleh seorang raja.
Sri Jayapangus, bersama kedua permaisurinya, menuruni Bukit Panarajon dan menyusuri hutan menuju arah timur laut di tengah hujan deras dan angin puting beliung. Tanpa rasa lelah, beliau terus melanjutkan perjalanan menuruni perbukitan hingga akhirnya tiba di suatu tempat yang disebut Gunung Lebih. Di sana, beliau berhenti untuk beristirahat dan melakukan pemujaan kepada para dewa, memohon petunjuk dan perlindungan-Nya. Saat melakukan pemujaan, beliau menerima sabda atau pawisik dari para dewa yang menyarankan agar beliau melanjutkan perjalanan sampai hujan dan angin mereda. Setelah hujan dan angin reda, beliau diperintahkan untuk memasang tanda dan membangun sebuah keraton di tempat tersebut. Peristiwa saat beliau menuruni Bukit Panarajon dikenal dengan nama Kuta Dalem Jong Les.
Mengingat sabda atau pawisik dari para dewa, Sri Jayapangus melanjutkan perjalanannya menuruni Bukit Panarajon bersama kedua permaisurinya. Akhirnya, mereka tiba di suatu tempat bernama Dharma Anyar, yang merupakan tempat pertapaan bagi orang-orang suci seperti Mpu, Maha Rsi, dan lainnya. Setibanya di Dharma Anyar, hujan dan angin pun mulai reda. Di tempat itu, beliau membangun sebuah keraton yang dikenal dengan nama Balingkang. Di sana, beliau kembali menyusun kerajaan seperti yang pernah dilakukan di Panarajon, didampingi oleh para Senapati Kuturan, pejabat kerajaan, dan kedua permaisurinya.
Pernikahan Sri Jayapangus dengan putri Cina yang dikenal sebagai Dewi Danuh, menghasilkan seorang putra bernama Mayadanawa. Mayadanawa kemudian dikenal dengan gelar Dalem Bedahulu dan beristana di Pejeng. Beliau akhirnya dikalahkan oleh Gajah Mada dari kerajaan Majapahit. Seiring waktu, bekas keraton Sri Jayapangus di Balingkang diubah menjadi tempat pemujaan atau tempat suci untuk memuja Sri Jayapangus dan kedua permaisurinya yang telah disucikan melalui upacara yajna. Tempat tersebut hingga kini dikenal dengan nama Pura Dalem Balingkang.

Berdasarkan Kekawin (geguritan) Barong Landung
Keberadaan Pura Dalem Balingkang juga tercantum dalam Geguritan Barong Landung yang ditulis oleh I Nyoman Suprapta (dalam tesis Juta Ningrat, 2010), sebagai berikut :
Diceritakan tentang seorang raja yang terkenal karena kebijaksanaannya dan banyak menulis prasasti yang memuat informasi tentang pelaksanaan upacara keagamaan. Raja tersebut bernama Sri Haji Jayapangus, dan kerajaan beliau terletak di Bukit Panarajon. Dalam pemerintahannya, beliau didampingi oleh seorang permaisuri bernama Dewi Danuh, putri dari keturunan Bali Mula. Suatu hari, seorang pedagang dari negeri Cina yang bernama Dewi Ayu Subandar datang bersama seorang putri cantik berkulit putih dan bermata sipit, yang dikenal dengan nama Kang Cing We. Kang Cing We kemudian diangkat menjadi pelayan Mpu Lim. Karena sering berada di keraton dan memiliki wajah yang sangat cantik, sang raja pun terpesona dan jatuh hati untuk menjadikannya istri.
Oleh karena itu, sang raja mengumumkan kepada para penggawa kerajaan dan rakyatnya untuk mempersiapkan upacara perkawinan. Mendengar kabar tersebut, salah satu Bhagawanta raja, yaitu Mpu Siwa Gandu, segera menghadap. Bhagawanta raja itu menyarankan sang raja untuk tidak menikahi Kang Cing We, karena seorang raja tidak diperbolehkan memiliki dua permaisuri, dan selain itu, Kang Cing We beragama Buddha sementara Sri Haji Jayapangus beragama Siwa atau Hindu. Namun, sang raja tidak mengindahkan nasihat Bhagawanta raja dan tetap bersikeras untuk menikahi Kang Cing We. Akhirnya, upacara perkawinan pun dilaksanakan. Karena Sang Bhagawanta merasa bahwa saranannya tidak didengar oleh Jayapangus, beliau pun marah dan melakukan tapa brata untuk menciptakan bencana, seperti hujan lebat, gempa, dan bencana lainnya, yang akhirnya menyebabkan kehancuran kerajaan tersebut. Akibat kehancuran kerajaan itu, pusat kerajaan pun dipindahkan ke Jong Les atau Dalem Balingkang. Dari perkawinannya dengan Dewi Danuh, mereka memiliki seorang putra bernama Mayadenawa yang kemudian diangkat menjadi raja di Bedahulu. Sementara itu, perkawinannya dengan Kang Cing We tidak dikaruniai keturunan.
Karena sudah lama tidak dikaruniai keturunan untuk meneruskan pemerintahannya di Dalem Balingkang, dan Dewi Danuh telah moksa, sang raja meminta izin kepada Kang Cing We untuk bertapa di puncak Gunung Batur, sambil memohon anugerah agar diberikan seorang putra. Di puncak gunung, sang raja bertemu dengan seorang putri yang sangat cantik, yang membuatnya jatuh cinta. Setelah beberapa waktu tidak menerima kabar dari sang raja, Kang Cing We pergi untuk mencari dan menemui sang raja di tempat pertapaan. Sesampainya di sana, Kang Cing We melihat sang raja sedang berkasih-kasihan dengan wanita cantik tersebut. Melihat kejadian itu, Kang Cing We marah dan memaki wanita itu, yang ternyata adalah penjelmaan Dewi Danuh yang sedang menguji tapa sang raja. Karena merasa dirinya dimaki, Dewi Danuh pun marah dan mengeluarkan api dari dahinya yang dengan cepat mengejar dan membakar Kang Cing We hingga tewas. Sang raja pun sangat sedih dan berduka, akhirnya menghentikan pertapanya. Karena sebelumnya sang raja mengaku belum memiliki istri kepada Sang Dewi, Dewi Danuh memutuskan memberikan hukuman yang setimpal, dan akhirnya sang raja mengalami nasib yang sama. Setelah kematian sang raja dan permaisuri, rakyat Dalem Balingkang mengikuti mereka ke tempat pertapaan dan menemukan bahwa junjungannya telah wafat. Mereka pun merasa sedih dan memohon kepada Dewi Danuh untuk menghidupkan kembali kedua junjungannya. Melihat ketulusan hati rakyat Dalem Balingkang, Dewi Danuh mengabulkan permohonan tersebut, tetapi dalam bentuk lingga yang berupa Barong Landung Lanang-Istri. Dewi Danuh kemudian memerintahkan rakyat Dalem Balingkang untuk membawa kedua lingga tersebut ke Dalem Balingkang dan memberkati mereka agar dapat memberikan perlindungan dari alam niskala atau memerintah dari alam niskala. Sesampainya di Dalem Balingkang, diadakanlah upacara agama untuk menghormati lingga tersebut.

← Back

Pesan Anda telah terkirim

Peringatan
Peringatan
Peringatan
Peringatan
Peringatan!