
Pura Suranadi adalah salah satu pura yang berada di Lombok tepatnya di dusun Suranadi Desa Selat, Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat. Secara etimologis, Suranadi berasal dari kata “sura” (dewa) dan “nadi” (sungai). Dalam kamus bahasa jawa kuno di sebutkan bahwa Suranadi juga berarti “Kahyangan”, tempat para dewa bersemayam. Menurut Pemangku Nengah Catra (mangku pura) keberadaan Pura Suranadi tidak terlepas dari Kisah perjalanan Dang Hyang Dwijendra ke Lombok. Ketika Danghyang Dwijendra datang pertama kali ke Lombok, di jumpai oleh Beliau adanya orang-orang Bali atau “Baliage” yang berdomisili di Dusun Medayin. Pada suatu hari Mpu Dwijendra melintas di Karang Medayin dan bertemu dengan salah seorang penduduk yang sedang mempersiapkan tempat pemakaman pamannya. Mpu Dwijendra memberikan petunjuk untuk membakar jazat atau Ngaben. Oleh penduduk lokal Sang Mpu akan diminta untuk Muput atau menuntaskan upacara ngaben.
Tepat pada hari yang di sepakati Mpu Dwijendra di jemput diasramanya di Dasan Agung. Tetapi ternyata Sang Mpu telah pergi meninggalkan asrama berjalan menuju kearah timur dan salah seorang penduduk berjalan cukup jauh akhirnya di sebuah hutan di jumpainya Mpu Dwijendra sedang duduk di atas batu di bawah pohon beringin. Mpu Dwijendra selanjutnya menunjuk pohon bambu dan meminta untuk di buatkan empat buah Bumbung untuk menampung sesuatu. Setelah ke empat Bumbung selesai di buat, maka Mpu Dwijendra berdiri seraya mengambil tongkat. Sang Mpu kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah dan keluarlah air yang meluap-luap bahkan sampai mancur dengan salah satu bumbung yang telah di siapkan tadi. Mpu Dwijendra menyuruhnya untuk memberi tanda dengan helai daun kayu, lalu bersabda bahwa air itu bernama “Tirtha Pebersihan”. Dan sekarang kita mengenal dengan Nama pura Pembersihan. Kemudian Beliau menancapkan kembali tongkatnya seperti tadi maka keluarlah air yang meluap-luap. Danghyang Dwijendra memberi tahu bahwa air tersebut bernama “Tirtha Pelukatan”.
Ditancapkan lagi tongkatnya maka keluarlah air mencirat bersuara gemuruh. Beliau memberi tahu bahwa air itu bernama “Tirtha” yang selanjutnya disebut “Tirta Gamana”. Hingga sekarang tempat munculnya tirta pelukatan dan tirta Gamana ini di beri nama pura Suranadi Ulon. Setelah itu Danghyang Dwijendra kembali menancapkan tongkatnya maka keluarlah air yang kemudian di beri nama “Tirtha Pengentas dan Toya Tabah. Jadi di Pura Pengentas ini di temukan dua macam tirtha yaitu tirtha pengentas dan toya Tabah, di jelaskan oleh Beliau bahwa “Tirtha Pengentas” digunakan untuk upacara “Pitra Yajna” yang bertujuan supaya Sang Atma (arwah) yang diupacarakan berhasil menemukan jalan menuju asalnya. Sedangkan Toya Tabah (Tirta Penembak) digunakan untuk pemuput upacara Pitra yadnya. Setelah Danghyang Dwijendra selesai membuat mata air suci atau Petirthan di Suranadi maka Beliau melanjutkan perjalanan ke arah utara. Piodalan di pura biasanya di laksanakan pada Purnamaning Sasih Ke- Lima
